7⃣ Bunda solehah 1
🍒1. Bagaimana cara orang tua agar bisa senantiasa ikhlas dan sabar dalam menghadapi mood anak, baik dalam beribadah maupun belajar? Karena ada tipe anak untuk melakukan sesuatu negosiasi dulu.
🍒2. Teh..., ini terkait dengan saya yang sedang dilema. Ingin sambung kuliah spesialisasi atau tetap bersama dengan anak dan pasangan di rumah. Pasangan menginginkan saya sebagai partner dia dalam mendidik anak2, sedangkan saya semangat untuk menimba ilmu juga kuat. Ketika pendidikan spesialisasi, pada umumnya keluarga jd prioritas ke dua, sedangkan saya tak mau dalam kondisi seperti itu. Apa yang mesti saya pilih teh kiki, agar saya bisa fokus,ikhlas dan sabar belajar bersama dengan anak
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
Pertama, ubah cara pandang kita terhadap anak yang gemar bernegosiasi. Anak-anak ini adalah calon pemimpin masa depan. Ia selalu ingin melibatkan pandangan mereka untuk mempengaruhi pandangan orang tua. Anak-anak tipe seperti ini biasanya tipe anak berkemauan kuat.
Dengan mengubah cara pandang kita akan melihat bahwa ini adalah potensi positif dalam diri anak yang perlu diasah agar digunakan dalam han kebaikan. Sehingga kita tidak memandang hal ini sebagai sesuatu yang terlalu negatif dan kemudian memicu emosi negatif kita.
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
Sebenarnya orang tua perlu bersyukur memiliki anak yang berkemauan keras. Meski terkadang memiliki tantangan tersediri dalam pengasuhan saat usia kecil. Anak-anak berkemauan keras adalah calon pemimpin masa depan. Mereka adalah orang-orang yang gigih mengejar cita-cita dan tidak mudah putus asa karena pandangan orang lain.
Sehingga fokus kita bukan mengubah karakter anak, tetapi bagaimana mengatur dan mengubah sikap kita untuk menyesuaikan diri dengan strong willed-spirited child agar potensi ini menjadi potensi kebaikan bagi ummat. Meskipun begitu secara umum semua anak akan melewati fasa egosentris. Di masa tersebut, mereka belum mampu memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang. Hanya dapat melihat masalah dari satu sisi. Namun anak anak strong willed-spirited child biasanya memiliki kadar ego dan kegigihan yang lebih besar.
Adapun cara kita menghadapi anak-anak yang berkemauan keras dapat dibaca dalam tulisan berikut yang diterjemahkan dan diadaptasi oleh suami saya. Aditya irawan
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
*Mengasuh anak berkemauan kuat*
Apakah anda memiliki anak berkemauan kuat? Anda sungguh beruntung! Anak berkemauan kuat akan sangat menantang saat mereka masih kecil, akan tetapi akan menjadi pemudi/pemuda yang hebat bila diasuh dengan baik. Memiliki motivasi yang kuat dan berpendirian teguh, mereka akan berusaha mengejar keinginan mereka dan hampir tak terpengaruh oleh tekanan lingkungannya. Sepanjang orang tua mereka tidak berusaha untuk "mematahkan kemauan mereka", anak berkemauan keras adalah calon pemimpin masa depan.
Apakah anak berkemauan kuat itu? Sebagian orang tua menyebut mereka "sulit" atau "keras kepala", tetapi kita juga bisa melihat mereka sebagai orang dengan integritas tinggi yang pandangannya tidak mudah digoyahkan. Mereka bersemangat dan pemberani. Mereka ingin mempelajari sesuatu sendiri daripada menerima perkataan orang lain, sehingga mereka akan menguji batas berulang kali. Mereka sangat ingin bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, sehingga terkadang menempatkan keinginan untuk menjadi benar diatas segalanya. Saat hati mereka terkunci pada sesuatu, otak mereka akan sulit untuk berpindah ke tempat lain. Anak berkemauan kuat penuh gairah dan menjalani hidup dengan kecepatan penuh.
Seringkali anak berkemauan kuat rentan terhadap perebutan kekuasaan dengan orang tua mereka. Akan tetapi, perebutan kekuasaan memerlukan adanya dua pihak. Anda tidak perlu melayani semua undangan untuk berdebat! Bila anda dapat menarik napas setiap kali emosi anda terpicu dan mengingatkan diri anda sendiri bahwa anda dapat menjaga harga diri anak anda dengan tetap mencapai apa yang anda inginkan, anda akan belajar cara untuk menghindari perebutan kekuasaan tersebut. (Jangan biarkan balita anda membuat anda bertingkah seperti balita juga!)
Tidak ada seorangpun yang suka didikte, akan tetapi anak berkemauan kuat sangat membencinya. Orang tua dapat menghindari perebutan kekuasaan dengan membantu anak merasa dimengerti meskipun anda memberikan batasan kepada mereka. Cobalah untuk berempati, berikan pilihan, dan mengertilah bahwa rasa hormat berlaku dua arah. Mencari solusi yang saling menguntungkan daripada sekedar menegakkan peraturan akan mencegah emosi anak berkemauan kuat meledak dan mengajari mereka keahlian bernegosiasi dan berkompromi.
Anak berkemauan kuat tidak sekadar ingin mempersulit. Mereka merasa integritas diri mereka ternoda bila mereka harus menyerah pada kemauan orang lain. Bila mereka diberi pilihan, mereka akan bekerjasama dengan senang hati. Bila anda merasa terganggu dengan ini karena berpikir kepatuhan adalah sesuatu yang penting, cobalah pertimbangkan kembali. Tentu saja anda ingin membesarkan seorang anak yang bertanggungjawab, penuh perhatian, mudah bekerjasama yang akan melakukan hal yang benar walaupun hal tersebut sulit. Tapi hal tersebut bukan berarti kepatuhan. Hal tersebut berarti melakukan hal yang anda inginkan.
Quote:
Moralitas adalah melakukan hal yang benar, tanpa peduli apa yang dikatakan pada anda. Kepatuhan adalah melakukan apa yang dikatakan pada anda, tak peduli benar atau salah.
- H.L. Mencken
Jadi tentu saja anda ingin anak anda melakukan apa yang anda minta. Tapi itu bukan berarti karena ia patuh, dalam artian ia akan selalu melakukan semua yang dikatakan oleh orang yang lebih besar darinya. Yang anda inginkan adalah ia melakukan permintaan anda karena ia mempercayai anda, karena ia mengerti bahwa walaupun anda tidak selalu menuruti semua keinginannya, tetapi anda peduli padanya. Anda ingin membesarkan seorang anak yagn memiliki disiplin diri, berani bertanggung jawab, dan penuh perhatian -- dan yang paling penting, memilki kemampuan untuk memutuskan siapa yang dapat ia percaya dan kapan ia dapat membiarkan dirinya dipengaruhi oleh orang lain.
Mematahkan kemauan seorang anak akan membuatnya terbuka pada pengaruh orang lain yang sering kali tidak memiliki tujuan yang sama dengannya. Dan lagi, hal tersebut adalah sebuah pengkhianatan pada tugas kita sebagai orang tua.
Walaupun begitu, anak dengan kemauan kuat dapat menjadi sesuatu yang sulit untuk diasuh -- berenergi tinggi, menantang, gigih. Bagaimana kita dapat melindungi hal-hal tersebut dan mendorong mereka untuk bekerjasama?
11 tips untuk pengasuhan anak berkemauan kuat dan penuh semangat
1. Ingatlah bahwa anak berkemauan kuat belajar dari pengalaman mereka
Hal tersebut berarti mereka harus melihat sendiri bahwa kompor itu panas. Sehingga bila anda tidak khawatir mengenai cedera serius, lebih efektif untuk mengajari mereka melalui pengalaman dibanding mencoba untuk mengendalikan mereka. Dan dapat diduga kalau anak berkemauan kuat anda akan menguji limit anda berkali-kali -- begitulah cara mereka belajar. Bila anda mengetahui hal itu, akan lebih mudah untuk bersikap tenang, yang akan mencegah memburuknya hubungan anda--dan juga kesabaran anda.
2. Anak berkemauan kuat sangat ingin penguasaan, terutama atas diri mereka sendiri.
Biarkan mereka bertanggung jawab atas aktifitas mereka sendir, sebanyak mungkin. Jangan mengomeli mereka untuk menggosok gigi; akan tetapi bertanyalah: "Apa lagi yang perlu dilakukan sebelum kita pergi?" Bila ia terlihat bingung, ingatkan kembali pada daftar aktifitas: "Setiap pagi kita sarapan, menggosok gigi, buang air, dan menyiapkan tas. Bunda lihat kamu sudah menyiapkan tasmu, hebat! Sekarang apalagi yang masih perlu dilakukan?" Anak yang lebih merasa mandiri dan memimpin dirinya sendiri akan berkurang keinginan untuk melawannya. Belum lagi, mereka belajar bertanggung sejak dini.
3. Beri anak anda pilihan
Bila anda memberi perintah, hampir pasti ia akan siap melawan. Bila anda menawarkan pilihan, ia akan merasa menjadi penguasa atas dirinya sendiri. Tentu saja, hanya berikan pilihan yang dapat anda sanggupi dan jangan merasa sakit hati karena telah menyerahkan kekuasaan padanya.
4. Berikan ia otoritas atas tubuhnya sendiri
Biarkanlah anak anda merasa dirinya berkuasa atas tubuhnya sendiri. Bila anda merasa udara diluar sedang dingin dan anda memintanya untuk mengenakan baju hangat, jangan kaget bila ia akan menolak. Sangat sulit baginya untuk membayangkan dirinya akan merasa kedinginan padahal saat ini ia sedang merasakan kehangatan di dalam rumah, dan mengenakan baju hangat hanya akan merepotkannya. Dia yakin dirinya benar -- tubuhnya mengatakan hal itu padanya -- jadi secara alamiah ia akan menolak anda. anda tidak ingin merendahkan percaya dirinya, tapi ajarkanlah bahwa merubah keputusan berdasarkan informasi baru tidak semestinya membuatmu malu.
5. Hindari perebutan kekuasaan dengan menggunakan peraturan dan rutinitas
Dengan begitu, anda bukanlah orang jahat yang menyuruh-nyuruh mereka, hanya saja
"Jam 8 malam adalah jadwal kita memadamkan lampu. Bila kamu bersegera, kita masih punya waktu untuk membaca dua buku" atau "Dalam rumah kita, kita harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum menonton."
6. Jangan desak ia untuk melawan anda
Paksaan selalu menghasilkan "perlawanan" -- pada manusia di segala umur. Bila anda mengambil posisi yang tidak dapat ditawar lagi, anda akan dengan mudah mendesak ia untuk menentang anda, hanya untuk membuktikan kalau ia bisa. Anda akan tahu bila hal tersebut adalah awal mula perebutan kekuasaan dan anda akan melakukan apa saja untuk menang. Berhentilah, tarik napas, dan ingatkan diri anda bahwa memenangi pertempuran dengan anak anda akan selalu membuat anda kehilangan sesuatu yang paling penting: hubungan baik. Bila ragu, katakanlah:
"Baik, kamu bisa memutuskan ini sendiri."
Bila ia tidak bisa, sebutkanlah bagian apa yang bisa ia putuskan, atau carilah cara lain untuknya agar ia bisa memenuhi kebutuhan otonominya tanpa membahayakan kesehatan atau keselamatannya.
7. Hindari perebutan kekuasaan dengan membiarkan anak anda menjaga harga dirinya
Anda tidak perlu membuktikan kalau anda benar. Anda bisa, dan harus, menetapkan harapan yang wajar dan melaksanakannya. akan tetapi janganlah pernah mematahkan kemauan anak anda atau memaksanya untuk menyetujui pandangan anda. Ia harus melakukan apa yang anda inginkan, tetapi biarkan ia memiliki pendapatnya sendiri dan perasaan tentang hal itu.
8. Dengarkan ia
Anda sebagai orang dewasa mungkin layak untuk menganggap diri anda mengetahui yang terbaik. Akan tetapi anak berkemauan kuat memiliki pendirian yang teguh karena integritasnya. Ia memiliki sudut pandang yang membuatnya berpegang teguh pada pendiriannya dan ia akan berusaha melindungi apa yang ia rasa penting. Bila anda bisa mendengarkan dengan tenang dan mempertimbangkan kata-katanya, anda akan mengerti apa yang membuatnya menentang anda. Anda tidak akan mengetahui hal tersebut bila anda berselisih dan memaksanya.
9. Lihatlah dari sudut pandangnya
Misalnya ia marah karena anda berjanji untuk mencuci pakaian kesukaannya dan kemudian lupa. Bagi anda, ia keras kepala. Baginya, wajar bila ia merasa kecewa, dan anda terasa bersifat munafik, karena ia tidak diperbolehkan untuk melanggar janjinya pada anda, tetapi anda melanggar janji anda padanya. Bagaimana anda dapat menyelesaikan masalah ini? Mintalah maaf padanya dengan bersungguh-sungguh, yakinkan ia bahwa anda berusaha keras untuk memenuhi janji-janji anda, dan cucilah pakaian itu berdua. Anda bahkan dapat mengajarinya mencuci pakaiannya sendiri sehingga anda tidak perlu berada dalam posisi ini di kemudian hari dan ia akan merasa diberi wewenang. Bayangkanlah bagaimana anda ingin diperlakukan, dan perlakukanlah ia sesuai dengan itu.
10. Disiplin melalui hubungan baik, bukan hukuman
Anak-anak tidak mempelajari apapun saat mereka di tengah pertengkaran. Seperti juga kita, pada saat itulah adrenalin bekerja dan pembelajaran terhenti. Jadi tidak perlu dipaksakan untuk memberikan pelajaran pada saat tersebut, tarik napaslah dan cobalah untuk mengerti. Anak-anak akan bekerjasama karena ada sesuatu yang lebih mereka inginkan daripada berbuat sesuka hati mereka -- mereka menginginkan hubungan yang hangat dengan kita. Semakin sering anda bertengkar dan menghukum mereka, semakin kecil keinginan mereka untuk melindungi hubungan baik tersebut. Bila sesuatu mengganggu perasaan mereka, bantulah ia untuk mengekspresikan perasaan sakit, takut, atau kecewa tersebut, agar perasaan tersebut hilang. Setelah itu ia akan siap untuk mendengarkan anda saat anda mengingatkannya bahwa di dalam rumah anda, semua orang berbicara dengan cara yang baik. (Tentu saja anda harus mencontohkan hal tersebut. Anak anda tidak selalu mengerjakan apa yang anda minta, tetapi mereka akan selalu, pada akhirnya, melakukan apa yang anda lakukan.)
11. Berikan ia penghargaan dan empati
Kebanyakan anak berkemauan kuat berjuang demi mendapatkan penghargaan. Bila anda memberikan hal tersebut pada mereka, mereka tidak akan perlu berjuang untuk melindungi posisi mereka. Dan, seperti juga pada kita semua, akan sangat membantu bila mereka merasa dimengerti. Bila anda mengerti sudut pandang mereka dan merasa ia salah -- misalnya, ia ingin menggunakan pakaian yang kurang pantas ke acara pernikahan -- anda masih bisa berempati pada perasaannya dan berkompromi dengannya dalam batasan yang anda tentukan.
"Kamu sangat suka baju ini dan sangat ingin menggunakannya bukan? Akan tetapi dalam acara pernikahan, kita berpakaian dengan rapi untuk menghargai yang mengundang dan tamu lainnya. Bunda tahu kamu sangat kehilangan bila tidak mengenakan baju ini. Bagaimana kalau kita bawa baju ini agar kamu bisa mengenakannya di perjalanan pulang.
Apakah hal-hal diatas terkesan memanjakan? Tidak. Anda menetapkan batasan-batasannya. Tetapi anda menetapkannya dengan mempertimbangkan sudut pandang anak anda, yang akan membuatnya lebih mudah untuk bekerjasama. Tidak ada alasan untuk melakukannya dengan kasar!
Hal ini juga buka cara pengasuhan dengan otoriter, karena hal tersebut hanya akan menjadikan mereka memberontak.
Sumber: http://www.ahaparenting.com/parenting-tools/positive-discipline/Parenting-Strong-Willed-Child
Terjemahan dan adaptasi oleh: Aditya Irawan
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
Untuk kasus kedua, niat meraih cita-cita itu tetap kita azamkan. Hanya masalah pilihan waktunya saja. Tidak semua cita-cita harus kita raih saat ini juga. Kita lihat perkembangan anak, waktu dimana mereka tidak terlalu membutuhkan banyak perhatian secara fisik, disitulah kita bisa kembali meneruskan perjuangan meraih mimpi dan cita-cita kita.
Menjadi ibu bukan berarti memupuskan mimpi. Menjadi ibu berarti membawa keluarga bersama mimpi kita dengan menyesuaikan mimpi kita menjadi mimpi bersama. Oleh karena itu ada kalanya speed dalam meraih mimpi harus kita kecilkan. Ada masanya kita bisa menancap gas kembali. Bila saat ini belum memungkinkan, bersabar saja. Tetaplah beraktifitas agar jalur meraih mimpi itu tidak terputus. Walau saat ini perlu merayap dalam menjalaninya.
Sebagai contoh, saya pun mengalami hal ini. Mimpi-mimpi saya tidak dikubur, hanya saja speed dalam meraih mimpi saat ini masih bergerak merayap. Tapi teruslah bergerak maju walau hanya langkah-langkah kecil. Saya yakin insya Allah ada masanya say bisa meroket, melangit dan kembali meraih impian saya. Saat it tiba saya berharap say telah selesai meletakkan fondasi dasar dalam diri anak-anak untuk meraih mimpi mereka. Dan pada akhirnya semua mimpi akan bergabung menjadi cita-cita bersama. Cita-cita di dunia dan akhirat. Insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar